Sabtu, 19 Agustus 2023

Cinta Pertama dan Terakhirku - Part 4

 Malam minggu bertiga

Sementara cici sedang tidur, aku membereskan piring bekas kami sarapan tadi, karena belum sempat dibereskan, lalu aku menyapu dan mengepel lantai. Setelah semua beres, aku bersiap untuk mandi. Baru saja aku mau ke kamar mandi, tiba-tiba telefon rumahku berbunyi. Aku langsung berlari ke ruang tengah, begitu kuangkat...

“Halo... Selamat pagi...” sapa si penelfon.

“Jones...”

“Tumben pagi-pagi sudah bangun, biasanya masih di kamar.”

“Iya, aku sudah bangun dari jam setengah empat tadi pagi.”

“Hah..?? Pagi banget bangunnya. Ada apa, rindu ya sama aku, sampe ga bisa tidur?”

Memang, karena cici yang mengantarku ke sekolah, kesempatanku bertemu dengan Jones hanya ketika di sekolah. Sebenarnya aku rindu sekali sama dia, kangen naik motor bareng dia. Kangen menyusuri jalan di kota Cirebon dengan menggunakan motor GL Pro nya.

“Kok kamu tahu? Papa dan mama berangkat ke Bandung tadi subuh jam setengah lima, jadi aku bangun pagi-pagi untuk membantu mama.”

“Wah...anak yang baik...”

“Ada apa menelfonku pagi-pagi?” tanyaku.

Jones bertanya tentang rencanaku hari ini. Dia sebetulnya mau mengajakku untuk jalan-jalan karena hari ini Sabtu dan malam Minggu. Memang biasanya kami jalan-jalan, tapi karena sekarang sedang ada cici di rumah, gak mungkin aku meninggalkan cici sendirian. Aku kangen Jones, tapi aku juga rindu cici. Ketika sedang asik menelfon, aku dikagetkan dengan kehadiran cici di sampingku. Rupanya dia sudah lebih dari lima menit mendengarkan percakapan kami.

“Hayo… Ngomongin cici ya…”

“Ah… cici… ngagetin aja…”

“Sini, cici mau ngomong sebentar sama Jones.” cici langsung mengambil telefon dan bicara dengan Jones.

“Kalau gitu cici mau mandi dulu ya... Nanti kita bicarakan lagi. Oke....” ujar cici menutup pembicaraan dengan Jones, dan menutup telefonnya. Selesai mandi aku langsung ke ruang tengah, kulihat cici sedang asik menonton televisi. Aku duduk di samping cici, kusandarkan kepalaku di pundaknya.

“Kenapa de?”

“Gapapa ci...”

“Kenapa…? Rindu dia yah?” tanya cici penasaran dan aku mengangguk pelan.

“Cici tau kok seperti apa rasanya.” katanya sambil menatap mataku.

“Hmm… cici punya rencana biar kita semua bisa senang hari ini..”

“Apa itu ci?” tanyaku penasaran

Cici menceritakan seluruh rencananya untuk hari ini. Aku cukup antusias mendengar rencana cici. Jadi aku tetap bisa ketemu Jones tanpa harus meninggalkan cici sendirian di rumah. Aku segera menelefon Jones, meminta dia datang ke rumah karena dicari sama cici.

Cici senyum-senyum melihat tingkahku. Memang cici pernah berada di posisiku, tapi dia lebih kuat. Buktinya, dia menjalani pacaran jarak jauh dengan pacarnya. Pacarnya sekarang sedang bertugas di Sulawesi Utara, lebih tepatnya Manado. Namanya kak Yos. Yoseph Setiawan seorang laki-laki yang tangguh, mandiri dan memiliki pribadi yang lembut, yang berprofesi sebagai seorang dokter. Dia sudah menjadi pacar cici sejak di bangku kuliah. Kalau dihitung-hitung, mereka pacaran sudah hampir tujuh tahun. Yang kudengar, tugasnya di Manado sudah hampir selesai, dan akan kembali ke Solo. Iyalah, cici harus lebih kuat dari kami, adik-adiknya. Dialah panutan bagi kami. Tapi aku yakin, jauh di dalam hatinya, dia memendam rindu yang begitu besar terhadap kak Yos.

Aku kagum dengan cici dan kak Yos. Mereka begitu kuat, walaupun menjalani hubungan jarak jauh, tapi mereka tetap setia dengan hubungan mereka. Aku pengen deh bisa seperti mereka, bisa terus menjalani hubungan dengan pacarku walau apapun yang terjadi.

“Hei.. kok melamun. Mikirin apa…?” tanya cici.

“Ci…..” ujarku sambil kupeluk tubuhnya

“Eh, ada apa nih… kamu manja banget ya kalo ada cici di rumah.” ledeknya.

“Aku mau seperti cici dan kak Yos. Kuat dan tetap setia walaupun menjalani hubungan jarak jauh.” ungkapku sambil membenamkan wajahku dalam pelukan cici.

Kata cici, yang terpenting dalam menjalin sebuah hubungan itu adalah PERCAYA. Kalau itu yang jadi dasar sebuah hubungan, cici yakin kami pasti kuat walau apapun yang terjadi. Aku juga harus dewasa, bukan secara usia aja tapi sikap, perbuatan, dan pemikiranku juga harus menunjukkan bahwa aku sudah dewasa. Memang itu butuh proses yang tidak sebentar, namun cici yakin dengan melalui setiap proses dalam kehidupan kita, kalau kita menjalaninya dengan baik, kelak kita akan jadi pribadi yang dewasa.

“Iya ci, makasih ya nasihatnya.”

“Tapi ada satu yang jadi kekhawatiran aku ci..”

“Apa itu?”

“Papa belum tau soal hubunganku dengan Jones.”

Papa memang belum mengetahui akan hubunganku dengan Jones. Aku dan mama belum mau bercerita tentang hubungan kami, karena aku yakin papa tidak akan setuju. Karena dari awal papa sudah berpesan kepada kami anak-anaknya untuk mengutamakan sekolah kami. Maksud papa memang baik, dia tidak ingin kalau pelajaran kami terganggu hanya lantaran lebih sibuk dengan hal lain di luar sekolah. Tapi menurutku, justru dengan kita memiliki pacar bisa membuat kita semakin semangat dalam belajar. Ya begitulah papa, dengan segala maksud baiknya, tapi dengan penyampaian yang kurang tepat. Tapi harus kuakui, papaku itu keras, bahkan mama sendiri mengakuinya.  Aku mengerti Jones juga mungkin merasakan apa yang kurasa, rindu untuk bisa bicara panjang lebar, bercanda. Tapi di satu sisi aku juga rindu untuk mengobrol dengan cici, karena kami jarang sekali bisa ngobrol banyak.

“Kami kan ketemu di sekolah ci…” protesku

“Itu beda sayangku….”

“Iya sih, bahkan tadi pagi, saat di telfon, dia bilang gini lho ci, Udah, kamu temani saja cici di rumah, ga papa kok. Kan kamu dan cici jarang ketemu, jadi dampingilah cici selagi dia ada di Cirebon. Lain kali aja kita jalannya.”

“Nah… seperti itulah contoh kecil betapa dia sangat mengerti kamu. Dia tau kalau kamu ketemu sama cici bisa dihitung dalam setahun, sementara kalian bisa ketemu setiap hari.”

“Ci, kak Yosep apa kabarnya?”

“Dia baik, sehat dan sebentar lagi tugasnya selesai. Dan dia akan kembali ke Solo.”

Cici bercerita banya tentang kak Yoseph. Sementara mendengarkan cerita cici dengan seksama, kami mendengar suara di gerbang depan. “Permisi…”

“Siapa de, coba dilihat”

“Jones udah dateng ci.”

Cici tersenyum melihat betapa senangnya aku, ketika Jones datang. Dan segera menyuruhku membukakan pintu untuk Jones.

“Lho, motor kamu mana, bukan yang biasa?” tanyaku.

“Iya, motorku lagi dipinjam  a Oni. Ini motornya, jadi kami tukar pinjam.”

“Oh…pantas aku ga mengenali suara motornya. Masuk yuk, aku lagi ngobrol-ngobrol tadi sama cici.”

“Bentar, ku tutup dulu pagarnya.”

Kutunggu Jones menutup pagar rumahku, dan meletakkan jaket dan helm di motornya. Kugandeng tangannya sambil kutarik masuk ke dalam.

“Eh bentar…” ujarnya.

“Udah cepetan… udah dicariin tuh sama cici.”

“Waduh… ada apa nih, sampai dicariin cici..”

“Hayo… kamu ada janji apa sama cici? Atau kamu ada salah ngomong ga tadi? Sepertinya cici marah deh sama kamu” ujarku serius.

Jones tampak bingung dan takut. Melihatnya seperti itu, aku berusaha menahan tawaku. Yang kubisa hanya senyum-senyum kecil.

“Udah, jangan kelamaan mikir, ntar makin marah cici.”

“Eh ntar dulu De..”

“Udah, ayo…” kutarik tangannya masuk ke rumah.

“Nih, ci, katanya nyariin Jones, ini orangnya, marahin aja ci..”

Cici dan Jones saling berpandangan, lalu berpaling melihat ke arahku. Aku hanya bisa tertawa. Aku segera lari masuk ke kamarku.

“Dede….” teriak cici sambil mengejarku. Meninggalkan Jones yang masih bingung dengan yang baru saja terjadi.

“Kamu ini ya, ngerjain aja. Kasihan tuh Jones ga tau apa-apa.”

“Dia tuh kalo lagi bingung nyenengin tau ci..”

“Kamu itu ya, bener-bener.” cubit cici.

“Sana, temuin dia, kasihan tuh sendirian.”

“Iya ci…”

Kami berdua keluar dari kamar menemui Jones yang sedang duduk di sofa  di ruang tengah.

“Nih Nes, pacarmu ini iseng ngerjain kita..” ujar cici.

“Maaf ya Nes… aku cuma bercanda”

“Ga papa kok ci. Dede biasa begitu, senang sekali ngerjain aku”

Aku hanya bisa tersenyum lebar, mengetahui bahwa Jones ingat kebiasaanku ketika aku sedang rindu dengannya.

“Ngomong-ngomong ada apa cici memanggilku. Kupikir cici dan Dede ada acara berdua saja.”

“Tadinya mau begitu. Tapi cici rasa ga adil kalau seperti itu.”

“Jadi kami tadi sudah menyusun rencana, supaya semuanya senang hari ini.”

“Apa rencananya ci?” tanya Jones penasaran.

“Begini…”

Cici menjelaskan semua rencananya menghabiskan malam ini bersama kami berdua, Jones mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Gimana?” tanya cici.

“Yaudah, mau berangkat jam berapa De?” tanya Jones.

“Sekarang aja yuk, ntar kesorean.” jawabku

“Kami berangkat ya ci.” pamit Jones

“Ya, ati-ati” pesan cici

Kupeluk tubuh Jones, dan kusandarkan kepalaku ke pundaknya. Kami memutuskan untuk berbelanja di pasar Kanoman. Karena menurut Jones disana lebih lengkap dibanding kalau kita ke pasar pagi. Kami melewati jalan Tentara Pelajar, melewati depan Grage Mall. Mendekati jalan Cangkring, Jones melihat ke arah spion, rupanya sedang diikuti oleh seseorang.

“Wah, kita diikutin, siapa ya de?”

“Aku juga ga tau, teman kamu, atau om kamu mungkin?” tanyaku

“Dek minggir dulu…” orang itu menyetop kami.

Jones pun meminggirkan motornya. Kami pun turun dari motor. Orang itu membuka jaketnya, dari situlah kami tahu bahwa dia adalah seorang polisi.

“Salah saya apa ya pak” tanya Jones.

“Iya pak, salah kami apa?” tanyaku juga.

“Sini-sini, turun dulu dari motormu” panggil pak polisi itu. Kami berdua turun dari motor dengan penuh kebingungan, karena tidak tahu salah kami apa.

“Salahmu adalah, kamu pake motor orang tapa seijin orangnya.” ucap petugas itu, Jones nampak kebingungan, karena dia pakai motor itu udah seijin a Oni.

“Ini motor mas Oni kan?” tanyanya. Dalam kebingungannya, Jones memperhatikan nama polisi itu.

“Budi Jatmiko… Pakde…” teriak Jones setelah membaca nama polisi itu.

“Sstt… jangan teriak. Tuh.. kan pada ngeliatin…” ujar om Budi.

Dia adalah pakde Budi. Adik sepupu mamanya Jones. Dia dipanggil pakde, karena tubuhnya gede, atau besar. Makanya dipanggil pakde atau bapak gede. Nama lengkapnya Budi Jatmiko, atau Kapten Budi Jatmiko. Dia bertugas di Polres Cirebon. Sedang dalam perjalan menuju ke Polres dari rumahnya di daerah jalan Sutawinangun.

“Apa kabar pakde? Bude sehat?” tanya Jones

“Sehat semua le. Papa dan mama gimana, sehat? Papamu masih tugas di Palembang?”

“Semua sehat pakde. Papa sekarang tugas di Kalimantan, pakde”

“Yowes le, pakde mau langsung ke kantor yo. Salam buat papa, mama dan Carla. Kowe ati-ati di jalan.”

Jones mengenalkan aku dengan pakde Budi. Pakde Budi tadi bahkan memujiku, cantik katanya. Ah, memang benar apa yang diceritakan Jones bahwa Pakde Budi itu orangnya humoris, suka bercanda. Tapi menurut Jones, dia cukup disegani oleh anak buahnya. Setelah kami berpisah dengan Pakde Budi, kami langsung menuju ke pasar Kanoman. Setelah dirasa semua sudah lengkap, kami langsung berangkat kembali menuju ke rumah.

“Kok lama de?” tanya cici.

“Iya ci. Nanti kuceritain, panjang ceritanya. Tapi aku mau mandi dulu, bau keringet nih.”

“Kamu mau mandi ga.” tanyaku ke Jones.

“Hmm… boleh ci?”

“Ya bolehlah. Memang kenapa ga boleh?” jawab cici.

“Yaudah sana cepet mandi…” suruh cici.

Sementara Jones mandi, kuceritakan semua yang terjadi selama perjalanan kami ke pasar tadi.

“Hmm, cici ga tau kalau Jones punya om seorang polisi”

“Jones ga pernah cerita apa-apa tentang saudaranya ci, yang sering dia ceritakan adalah kakek dan neneknya ci."

Jones adalah cucu seorang perwira TNI Angkatan Darat. Lebih tepatnya opa Agus - opanya Jones - adalah seorang perwira, yang kala itu berpangkat Mayor. Menurut Jones itu tergolong sebagai perwira menengah. Beliau waktu itu menjabat sebagai Komandan Kodim. Menurut cerita Jones yang sering diceritakan oleh omanya, dulu opa ikut berjuang bersama panglima besar Jendral Soedirman. Sebetulnya aku ingin sekali mendengar ceritanya langsung dari mulut oma, tapi aku harus bilang dulu ke Jones.

“Maaf lama ci, ada yang bisa kubantu ga?” tanya Jones.

“Ayo sini, bantuin cici memanggang ayam. Bisa kan?”

“Bisa ci. Aku sering bantuin tante kalau dia ada yang pesan ayam bakar atau ikan bakar.”

“Ku bantu yah..” pintaku

Sementara Jones mempersiapkan arang, aku membantu Jones mempersiapkan bumbu olesan yang akan dioles ke ayam ketika sudah setengah matang.

“Nes, gimana ayam bakarnya, sudah matang belum?” tanya cici.

“Sedikit lagi ci, tinggal empat potong lagi kok.” jawabku

“Namamu sudah berubah jadi Jones, de?”

“Iya ci.” candaku

Akhirnya ayam sudah selesai dibakar semuanya. Aku membawa piring berisi potongan ayam bakar ke dalam, dan meletakkannya di meja makan.

“Ayo kita makan.”

Kami bertiga makan dengan lahap, karena memang sedang lapar. Setelah selesai makan, aku dan Jones membantu cici membereskan meja makan dan mencuci piring. Makan sudah, beres-beres pun sudah, kami bertiga duduk-duduk di ruang tengah sambil ngobrol-ngobrol. Banyak hal yang kami bicarakan, tentang sekolah kami, pelajaran kami masing-masing.

“Ci, besok kereta yang jam berapa?” tanya Jones tiba-tiba.

“Jam satu siang, Nes.” jawab cici

“Oh iya.. aku mau besok kalian yang antar ya.” katanya lagi

“Lho, om dan tante gimana ci?” tanya Jones

“Papa dan mama kan pasti capek baru pulang dari Bandung. Jadi biar mereka istirahat, dan kalian berdua yang antar cici ya.”

“Cici boleh ga tidak usah pergi lagi…?” pintaku

“De, cici kan kerja di sana.” Jawab Jones

Kupeluk tubuh cici. “Aku mau cici selalu di dekat aku.” kataku

“Sini, sini… kapanpun kamu butuh cici, telfon cici, pasti cici jawab telfonmu.”

“Udah, jangan sedih-sedih dong.” ujar cici

“De, ada gitar ga? Kita nyanyi-nyanyi yuk.” usul Jones

“Ada di kamarku, sebentar ya kuambil.” kataku

“Ayo Nes, mainkan lagu-lagi yang enak dan ceria. Hibur kami berdua malam ini.” pinta cici

“Oke ci…”

Ya, aku memiliki sebuah gitar di rumah. Itu adalah gitar pemberian Jones di hari ulang tahunku yang ke lima belas. Dari gitar jugalah muncul rasa tertarikku pada sosok Jones. Dia memang pandai bermain gitar. Semua chord gitar sudah dia hapal di luar kepala. Hampir tidak ada lagu yang tidak bisa dimainkan oleh Jones. Namun dia orang yang amat pendiam ketika pertama kali aku mengenalnya di bangku SMP.

Cinta Pertama dan Terakhirku - Part 3

 Ci Chyntia

Hari-hari kami selanjutnya diisi dengan kesibukan kami di sekolah. Begitu banyak tugas sekolah yang harus kami kerjakan. Karena pelajaran kami di SMA lebih banyak daripada ketika kami duduk dibangku SMP. Ci Chyntia pun datang bersama dengan papa. Aku senang sekali sebab kami bisa berkumpul semua, walau hanya untuk beberapa hari ke depan. Ci Chyntia di Cirebon hanya tiga hari sebab dia harus segera kembali ke Bandung, untuk mengurus kuliahnya lagi. Kuliah cici hanya tinggal satu setengah tahun lagi, tinggal membuat skripsi dan menjalani ujian, setelah itu selesai sudah perkuliahannya.

“Maaf ya ma aku ga bisa lama di sini, cuti kuliahku sudah selesai dan aku mau urus administrasi supaya bisa lanjut kuliah lagi.” jelasnya.

“Mama ngerti kok sayang… Yang penting yang terbaik buat kamu ya. Mama selalu doakan kamu, cici dan juga dede..”

Malam itu kami semua berkumpul di ruang tamu, kami ngobrol, bercanda. Senang rasanya bisa berkumpul bersama dengan cici-ciciku yang sekarang berada jauh, karena pekerjaan dan kuliah.

“Cici, Chyntia dan dede… Minggu depan papa dan mama harus ke Bandung, karena teman sekolah papa ada yang menikahkan anaknya. Jadi papa dan mama harus datang. Tadinya papa ga mau datang karena lumayan jauh, tapi dia sahabat papa, jadi papa harus datang.” ucap mama.

“Papa usahakan Minggu pagi sudah kembali. Sebelum cici pulang ke Solo.” ucap papa menambahkan.

Mama pamit untuk beristirahat, sementara papa sudah lebih dulu beristirahat, karena besok sudah harus masuk kerja lagi. Malam itu kami bertiga melanjutkan mengobrol di kamar ci Christine.

“Memangnya bisa kamu mengerjakan skripsi sambil bekerja?” tanya ci Christine.

“Ya harus bisalah ci, sayang kalau aku keluar dari kerjaanku yang sekarang.”

“Yaudah, gapapa, asalkan kamu bisa jalaninnya…”

“Doain ya ci..”

“Aku selalu doakan kalian berdua.” ucap ci Christine.

“Oh iya de, Jones gimana, sehat dia? Dah lama lho cici ga ngobrol sama dia.” tanya ci Chyntia.

“Dia sehat kok ci, kemarin kami habis jalan-jalan bertiga dengannya. Apa besok kita mau jalan-jalan lagi berempat?” tanyaku sambil mengedipkan mataku ke arah ci Chyntia.

“Wah, ide bagus tuh. Kita besok jalan-jalan aja lagi, berempat kalau perlu sama cici. Oke ci..?” tanya ci Chyntia ke ci Christine.

“Yah… aku sih oke aja. Tapi gantian, kamu yang bayarin… kan kamu udah kerja…” goda cici.

“Ah, kalau itu sih, tenang aja… gampang diatur itu ci..”

“Yaudah kalau begitu, aku telfon dia ya ci..” ucapku sambil berjalan menuju ke ruang tamu untuk menelfon Jones. Untung dia belum tidur, lalu segera kuberitahu tentang rencana besok, dan tanpa berpikir lama dia pun setuju. Tapi kali ini aku bilang sama dia mungkin akan sampai malam, jadi sebaiknya dia memberitahu mama Anna.

“Iya de, nanti aku kasih tahu mama. Mama pasti ijinin, apalagi perginya sama kamu dan cici.”

“Yaudah kalau begitu, sampai jumpa besok ya..”

“Oke.”

Pagi harinya Jones datang menjemputku seperti biasanya, dan begitu dia mau masuk ke teras sudah dicegat oleh kedua ciciku. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi kulihat Jones salah tingkah mereka buat. Setelah kupastikan tidak ada yang tertinggal, aku segera berpamitan dengan mama dan menuju ke halaman.

“Ci, aku berangkat ya..” pamitku.

“Berangkat dulu ya ci..” pamit Jones seperti biasanya, mencium tangan ke dua ciciku.

“Hati-hati ya Nes… adik cici cuma satu, jaga dia ya..” jawab ci Chyntia.

“Iya ci..”

“Jangan lupa nanti sore..” ucap ci Chyntia, dan Jones mengangguk yakin sambil tersenyum.

Jones segera melajukan motornya menuju ke sekolah, melewati jalan Tuparev yang sudah mulai ramai diisi oleh sepeda motor dan mobil yang hendak berangkat menuju tujuan mereka masing-masing. Akhirnya kami tiba di sekolah, dan setelah memarkirkan motornya, kami langsung menuju ke kelas kami masing-masing.

Bel pulang pun berbunyi, tapi karena tanggung sedang menjelaskan akhirnya pak Didi melanjutkan penjelasan sekitar sepuluh menit lagi. Setelah selesai menjelaskan pak Didi memimpin doa tutup dan mempersilahkan kami untuk pulang, aku segera merapikan tasku dan langsung menuju ke parkiran motor di belakang sekolah, sementara Jones sudah siap berdiri di samping motornya, dan dia tersenyum ke arahku.

“Udah lama? Maaf ya agak lama, tadi pak Didi sedang menjelaskan dan tanggung kalau dihentikan, makanya agak sedikit mulur pulangnya.”

“Gapapa De, aku ngerti kok. Beliau juga pernah seperti itu ketika di kelasku.”

“Nih helmnya dipakai..” ucapnya seraya menyodorkan helm yang sering kupakai, dan aku langsung naik ke motornya. Tak sampai setengah jam kami sudah tiba di rumahku, dan kusuruh dia masuk dan duduk di ruang tamu sambil menunggu aku dan kedua ciciku untuk bersiap-siap.

“Ci.. Nih, katanya mau ketemu sama Jones…” ucapku sambil kuketuk pintu kamar ci Chyntia.

“Lho, udah pulang de?”

“Iya ci, baru aja nyampe. Itu dia sudah di ruang tamu, katanya mau ketemu..”

“Ya sebentar, cici ganti baju dulu. Memangnya mau berangkat jam berapa?”

“Ya jangan kesorean ci, nanti kaya minggu lalu, kami sampai jam sembilan baru pulang. Dan mama menegur kami karena terlalu malam.”

“Oke, yaudah kamu juga ganti baju, kita berangkat jam tiga aja yah..”

“Yaudah, kalau gitu aku temani dia dulu, kasihan ga ada yang temani di ruang tamu”

Aku ke dapur dan membuat segelas sirup jeruk dan memberikannya ke Jones, dan langsung dia habiskan segelas sirup jeruk itu.

“Haus atau doyan Nes..?”

“Haus De, panas banget di luar..” jawabnya sambil tersenyum.

“Mama dan Carla gimana Nes, sehat?”

“Puji Tuhan De, mereka sehat semua, dan Carla sebentar lagi mau masuk TK. Mama nanyain kamu katanya kapan-kapan aku diminta mengajakmu ke rumah.”

“Hah?? Beneran?” tanyaku memastikan, dan dia mengangguk. Memang sejak kami berpacaran, aku belum pernah lagi menginjakkan kaki ke rumahnya. Mama Anna memang sudah tahu kalau kami berpacaran, dan mungkin dia juga kangen sama seperti aku kangen padanya. Kupegang tangannya, “Nanti kita cari waktu ya untuk ketemu mama Anna, aku juga kangen sama mama, dan aku juga pengen banget ketemu sama Carla.”

“Yaudah, nanti aku ajak kamu main ke rumah ya..”

“Oke.” jawabku, dan tak lama kedua ciciku pun bergabung dengan kami.

“Nah, kutinggal dulu ya, aku mau mandi dan ganti baju..”

Setelah semua siap, kami pun segera berpamitan dengan mama yang ada di ruang keluarga.

“Ma, kami berangkat ya..” pamitku ke mama yang sedang menonton televisi.

“Pamit ya tante..” pamit Jones ke mama.

“Ya, hati-hati dan ingat, jangan malam-malam pulangnya.”

“Iya mama..” jawab ci Christine sambil mencium pipi mama.

Kami berangkat tepat pukul tiga sore menuju ke Grage Mall, supaya bisa agak lama di sana kalaupun mau pulang pukul delapan. Malam itu kami sangat menikmati kebersamaan kami berempat, kami makan, bermain, ngobrol dan bercanda hingga waktu menunjukkan pukul delapan malam. Kami segera melangkah menuju ke parkiran dan langsung pulang ke rumah. Setelah cici memarkirkan mobil, Jones bersiap-siap untuk pulang.

“Mama dan papa mana de, aku mau pamit pulang.”

“Papa udah tidur, ada hanya mama. Sebentar ya.” jawabku. Aku menuju ke ruang keluarga, dan memberitahu mama bahwa Jones mau pamit pulang. Kugandeng mama menemui Jones di ruang tamu, sementara kedua ciciku masih duduk di teras.

“Tante, saya pamit pulang dulu..” pamit Jones.

“Ya, Nes. Makasih ya udah temani mereka jalan-jalan hari ini, maaf udah merepotkan kamu. Hati-hati pulangnya, ini sudah malam, ga usah ngebut ya Nes.”

“Engga kok tante, saya senang kalau bisa membantu. Iya tante, terima kasih.”

“Yaudah, kalau begitu tante masuk dulu ya, mau istirahat. Salam buat mama.” ucap mama seraya menepuk-nepuk bahu Jones, lalu langsung kembali ke dalam dan masuk ke kamar.

“Ci, aku pamit ya, makasih udah di traktir makan..” pamit Jones sambil tersenyum.

“Aku yang terima kasih, sudah ditemani jalan-jalan. Jangan bosan ya kalau cici minta tolong temani lagi.” jawab ci Chyntia.

“Pasti ci, kalau butuh apa-apa kabari aja ci lewat dede. Kalau pas ga sibuk aku langsung datang kok.”

“Oke kalau begitu. Ayu ci masuk, aku udah ngantuk nih..” ucap ci Chyntia seraya menggandeng tangan ci Christine untuk masuk.

“Iya, aku juga udah ngantuk nih. Kamu hati-hati ya Nes.. Makasih ya..” pesan ci Christine.

“Iya ci, selamat beristirahat cici..”

“De, jangan lupa kunci pagarnya nanti, kami mau tidur duluan ya..” ucap ci Chyntia.

“Iya ci..” jawabku. Kugandeng tangan Jones menuju ke motornya, sebelum dia naik ke motornya, kupeluk tubuhnya, dan dia membelai rambutku.

“Aku pulang dulu ya, kamu cepat istirahat, besok ku jemput.” ucapnya lembut.

“Iya, makasih ya.. kamu juga cepat istirahat, supaya besok tidak kesiangan menjemputku.” bisikku di telinganya. Dia segera menyalakan motornya dan langsung menghilang di kejauhan.

Hari berlalu begitu cepat, tak terasa hari minggu pun tiba. Hari dimana cici Chyntia harus kembali ke Bandung untuk mengurus kuliahnya. Aku sedih karena harus berpisah lagi dengan cici. Yang mengantar hanya aku, mama dan cici. Papa terpaksa harus ke kantor karena ada urusan mendadak yang tidak bisa ditunda. Kami mengantar ci Chyntia ke terminal. Satu-satunya terminal bis di kota Cirebon ya hanya terminal bis Harjamukti. Letaknya dekat dengan rumah Jones. Kami tiba di terminal bis Harjamukti, dua puluh menit sebelum keberangkatan bis yang cici naiki. Bis tujuan Bandung ada di jalur tiga.

“Aku pamit ya ma…” ucap cici sambil mencium pipi mama dan memeluknya.

“Jaga dirimu disana. Kalau ada apa-apa kabari mama.”

“Iya ma. Mama sama papa juga. Doain ya ma.”

“Mama selalu doakan anak-anak mama.” ucap mama sambil mencium kening cici Chyntia.

“Pamit ya ci.. Aku akan segera selesaikan kuliahku.”

“Ya. Cepat selesaikan kuliahmu, supaya kamu bisa lebih fokus bekerja.” bisik cici Christine sambil memeluk cici Chyntia. Melihat mereka berpelukan, aku jadi semakin sedih, dan tak terasa air mata mengalir di pipiku.

“Cici pamit ya de… Kamu jaga papa dan mama, jangan jadi beban pikiran mereka. Belajar yang bener ya.”

“Iya ci..” aku pun menangis sambil kupeluk tubuh cici Chyntia dengan erat, seperti tak akan pernah kulepaskan. Ci Chyntia melepaskan pelukanku dan memegang pundakku, menghapus air mata yang menetes di pipiku. “Udah jangan nangis sayang… nanti kalau liburan sekolah, main ke Bandung ya. Sekalian ajak Jones.”

Aku tersenyum mendengar cici menyuruhku ke Bandung bersama dengan Jones.

“Nah… gitu, senyum dong… Kalau gitu baru keliatan cantiknya adikku ini” sambil mencubit pipiku lalu memelukku.

“Salam ya buat Jones.”

“Iya ci, nanti aku sampaikan.”

“Aku berangkat ya.” ucap cici Chyntia sambil masuk ke dalam bis dan melambaikan tangan pada kami. Tak terasa air mataku pun mengalir lagi. Bis yang cici naiki berjalan perlahan meninggalkan terminal Harjamukti, meninggalkan aku yang masih sedih ditinggalkan oleh cici.

“Udah jangan nangis ya, cici ikut sedih nih kalau lihat kamu nangis. Bandung dekat kok. Kapan-kapan kita sama-sama ke Bandung, nengokin dia yah… Ayo kita pulang.” ucap cici. Dia menyeka air mataku dan langsung menggandeng tanganku dan mama menuju ke parkiran mobil.

Kami pun sudah sampai di rumah kembali. Perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh lima menit perjalanan kembali ke rumah. Aku hempaskan tubuhku ke atas kasur, masih terasa sedih. Tapi aku berjanji pada diriku, aku akan ke Bandung pas liburan nanti. Kalau perlu aku ke Bandung lalu ke Solo untuk menengok kedua ciciku yang sangat kusayangi.

Hari berlalu begitu cepat, tak terasa sudah hari Jumat saja. Memang kalau kita mengisi hari-hari kita dengan kesibukan, waktu cepat sekali berlalu.

Setelah makan malam, aku dan cici menonton televisi di ruang tengah, kulihat papa dan mama sedang mempersiapkan pakaian untuk keberangkatan mereka besok.

“Ada yang bisa kubantu, ma, pa?” tanyaku.

“Sudah beres kok de, besok kami berangkat subuh, supaya tidak kesiangan sampai di Bandung.”sahut mama.

“Yaudah, mama sama papa segera istirahat aja. Nanti aku yang kunci pintunya.” ucap cici.

“Ci, aku tidur dulu ya.” kataku

“Ya... Selamat tidur. Mimpi indah ya…”

Aku langsung tertidur malam itu. Aku terbangun oleh suara di dapur. Kulirik jam wekerku, masih menunjukkan pukul setengah empat pagi. Siapa pagi-pagi buta sudah ada di dapur. Aku pun langsung melangkahkan kaki keluar kamar. Kulihat mama sedang sibuk mempersiapkan makanan dibantu oleh cici.

“Ya ampun ma, pagi-pagi banget masaknya?” tanyaku.

“Iya, mama lagi siapkan sarapan buat kita. Karena mama dan papa berangkat jam setengah lima, jadi masih sempat sarapan biar ga jajan di jalan nanti.”

“Papa mana ma?” tanyaku.

“Itu ada di depan, sedang memanaskan mobil.”

“Oh..”

“De.... tolong panggil papa ya sayang, kita sarapan sama-sama.” pinta mama.

Aku berjalan menuju ke teras, mengajak papa masuk untuk sarapan. Setelah mematikan mobil, kugandeng tangan papa lalu masuk ke rumah. Mama dan cici sudah menunggu kami di meja makan. Hari itu kami sarapan pagi sekali, jam empat pagi.

“Kami berangkat ya. Kalian berdua jaga rumah ya. Kalau mau pergi jangan lupa kunci pintu dan pagar.”

“Ya ma, pa. Hati-hati di jalan.” pesan cici.

Kami berdua melambaikan tangan mengiringi keberangkatan papa dan mama.

Kamipun masuk kembali ke dalam rumah. “Apa rencana kita hari ini ci?” tanyaku.

“Nanti deh kita pikirkan. Cici mau tidur sebentar dulu ya. Masih agak ngantuk. Bangunkan cici jam tujuh ya...”

“Iya ci...”

Kasihan cici, dia pasti masih mengantuk. Ga tau dia bangun jam berapa tadi pagi, membantu mama menyiapkan sarapan. Hmm... ngapain ya enaknya hari ini. Oh iya, ini kan malam minggu, Jones pasti akan mengajakku jalan-jalan. Senang sih, tapi... kasihan cici sendirian... Gimana kalau kita ga usah jalan-jalan, tapi main-main aja di rumah, ngobrol-ngobrol aja bertiga, pasti asik... Atau nanti kalau cici sudah bangun, kutanya aja, mungkin dia punya pendapat yang lain, yang lebih seru.

Jumat, 18 Agustus 2023

Cinta Pertama dan Terakhirku - Part 2

 Jalan-jalan bersama cici

Seperti biasa, pagi harinya Jones menjemputku tepat pukul enam lewat lima belas. Hari itu kegiatan MOS kami lebih banyak di dalam kelas, tidak melelahkan seperti kemarin yang lebih banyak dihabiskan di luar kelas. Karena hari itu adalah kegiatan perkenalan dengan guru-guru yang akan mengajar kami. Setelah bel pelajaran selesai berbunyi, aku segera membereskan tasku, dan langsung bergegas menuju ke parkiran.

“Mau kemana De, kok buru-buru amat.” sapa Dessy.

“Iya nih Des, hari ini aku mau cepat pulang, karena cici datang dan minta ditemani jalan-jalan.”

“Oh, cicimu datang ya?”

“Iya, Des. Yaudah, aku duluan ya Des…”

Aku pun segera berlari ke parkiran, kulihat Jones pun sudah siap di atas motornya. Tanpa pikir panjang, aku langsung naik ke motornya, segera kupakai helm, dan kami segera melaju menuju rumahku.

“Aku pulang… Ma… ada tamu nih…” ucapku sambil menghampiri mama yang sedang duduk di ruang tamu sambil membaca koran. Kuajak Jones masuk dan kupersilahkan duduk di ruang tamu, sementara menungguku berganti pakaian.

“Siang tante...” sapa Jones sambil mencium tangan mama.

“Eh… Siang Nes, sini duduk...” ucap mama.

“Ma, aku ganti baju dulu ya.”

“Iya. Sekalian ambilkan minum buat Jones ya sayang...”

“Ya ma…”

Setelah berganti pakaian, aku keluar sambil membawa segelas air dingin yang kuambil dari lemari es.

“Cici belum siap de?” tanya mama.

“Tadi ketika ku tanya dia bilang sudah, tapi kok belum keluar juga..” sahutku

“Ci… jangan kesorean lho, nanti keburu malam.” panggil mama.

“Iya ma, udah siap kok.”

Cici keluar dari kamar, dan mengambil kunci mobil yang digantung di dekat kamar mama.

“Aku pinjam mobilnya ya ma…” pinta cici

“Dah mama…” ku cium pipinya.

“Pergi dulu tante.” pamit Jones

“Ya, hati-hati kalian.” jawab mama.

Kami pun tiba di Grage Mall, sebuah mall yang cukup luas, terdiri dari tiga lantai dan terhitung baru di kota Cirebon. Ketika malam minggu, mall ini akan penuh dengan muda-mudi yang berdatangan. Baik hanya sekedar nongkrong, ngobrol-ngobrol, makan, nonton bioskop dan lain-lain. Hari ini adalah hari Rabu jadi kemungkinan di sana tidak akan terlalu penuh seperti kalau hari Sabtu dan Minggu. Cici memarkirkan mobilnya di parkiran di belakang mall itu yang tampak sepi sore itu.

“Kita kemana dulu nih..?” tanyaku.

“Kamu laper ga de?” tanya cici.

“Laper ci, tadi siang kan belum sempat makan. Kalo kamu, lapar ga Nes?” tanyaku

“Lumayan..” jawabnya

“Yaudah, kamu yang pilih deh de tempatnya. Kan kamu yang biasa ke sini..”

Malam itu kami memutuskan untuk makan di sebuah restoran siap saji yang relatif baru hadir di Cirebon, kami belum tahu apa saja menunya dan bagaimana rasanya. Kami memesan dua buah paket nasi, ayam dan minuman; paket burger, kentang goreng dan minuman.

“Bagi dua yah Nes burgernya, ini terlalu besar porsinya buatku..” pintaku.

“Udah dimakan aja, habiskan yah.”

Aku terpaksa menghabiskan burger yang menurutku tidak sanggup kuhabiskan. Aku melirik Jones dengan tatapan memelas, dan dia melihat ke arahku sambil tersenyum.

“Kenapa…?” tanyanya lembut.

“Kan aku udah bilang ga sanggup…”

Aku mengangkat dan menyodorkan burger yang baru sepertiga kumakan ke arah Jones dengan wajah memelas.

“Yaudah, jangan dipaksa. Sini…” ucapnya seraya mengambil dan segera memakan burger yang baru saja kuberikan.

“Oh iya, Nes, bagimana tantemu, sakit apa dia?”

“Beliau kelelahan, ci. Tekanan darahnya drop, kata dokter kurang istirahat. Memang sih beberapa hari ini pesanan sedang banyak-banyaknya.”

“Memang apa kesibukan tantemu?”

“Buka usaha katering ci, dan terima pesanan untuk segala macam acara.”

“Wah…boleh tuh jadi referensi, siapa tau nanti ada acara dan butuh konsumsi. Nanti cici minta nomer telefonnya ya..”

“Boleh ci.”

Setelah selesai makan kami berbincang sebentar sambil menunggu makanan kami dicerna oleh lambung kami. Setengah jam kemudian kami beranjak meninggalkan tempat kami makan tadi.

“Sekarang kita kemana ci?” tanyaku.

“Kita ke sana aja yuk ci.” ajak Jones sembari menunjuk ke arah sebuah arena permainan.

“Ayo ci…” sambil kutarik tangan cici menuju ke tempat yang ditunjuk Jones. Kami asik bermain di situ hingga tak terasa waktu sudah setengah sembilan.

“Sudah malam nih. Pulang yuk…” ajak cici.

“Iya ci, aku juga mau persiapkan tugas buat besok.” balasku.

Kami bertiga segera melangkahkan kaki menuju ke parkiran. Dan cici pun melajukan mobilnya dengan segera, agar cepat sampai di rumah, dan kami pun tiba di rumah hampir pukul sembilan.

“Kamu udah ijin kan tadi pulang sampai jam segini, Nes?” tanya cici.

“Udah kok ci. Aku bilang mau temani cici jalan-jalan.”

“Ok. Makasih ya udah temani cici hari ini, maaf kalau sampai jam segini. Cici masuk duluan ya. Kamu hati-hati pulangnya.” ujar cici sambil tersenyum.

“Iya ci, gak papa kok. Aku pamit pulang ya ci. Mama mana De, aku mau pamit pulang.”

“Bentar ya. Ma… Jones mau pulang nih.”

Mama menemui kami di teras. Mama menegurku karena telah mengajak Jones hingga malam. Maksud mama baik, dia tidak ingin Jones kemalaman di jalan. Aku meminta maaf ke mama, terlebih Jones karena sudah mengajaknya hingga malam.

“Ga papa kok tante. Aku sudah pamit tadi sama mama. Lagian ga sering-sering kok tante.”

“Salam buat mama ya Nes. Tante masuk dulu ya.”

“Iya tante, selamat beristirahat..” jawab Jones, mama mengangguk sambil tersenyum.

“Aku antar Jones dulu ya ma”

Mama mengangguk, tersenyum sambil menepuk punggungku lalu Mama kembali masuk, sementara aku mengantar Jones hingga ke pintu pagar. Aku terdiam dan tertunduk berdiri di sampingnya, merasa bersalah karena sudah mengajaknya hingga malam tanpa memikirkan mama Anna di rumah. Jones yang melihatku tertunduk, segera menghampiriku dan mengangkat wajahku. Dia menatap wajahku dengan tatapan khasnya yang lembut dan teduh.

“Kenapa kamu diam?”

“Maaf ya sampai malam begini. Sampaikan maafku ke mama ya…”

“Sudah… ga papa kok… Ga usah sedih yah…”

“Tapi ini su….” Belum selesai aku bicara Jones memelukku dan membelai rambutku. Dia memegang wajahku, lalu mencium keningku. Aku tersenyum ke arahnya lalu dia menggenggam kedua tanganku.

“Nah gitu, senyum…” ucapnya lembut, lalu kucium pipi Jones dengan lembut, “ini sebagai permintaan maafku ya.”

“Aku pamit ya.” ucapnya.