Jumat, 18 Agustus 2023

Cinta Pertama dan Terakhirku - Part 1

Hari pertama di SMA

Pagi itu matahari menampakkan semburat sinar kemerahan di ufuk timur, hari yang indah untuk mengawali hari pertama kami di kelas satu SMA. Hari itu dia datang menjemputku menggunakan motor GL Pro nya.

“Sudah siap? Yuk kita berangkat, nanti kalau terlambat bisa habis kita diomelin oleh kakak senior” begitu kata Jones.

“Aku berangkat ya ma.” pamitku pada mama.

“Ya, hati-hati, cepat pulang ya, karena kita mau jemput cici di stasiun.” pesan mama, seraya aku menutup pintu pagar rumahku.

“Ya ma..” jawabku.

Jones pun segera melajukan motornya menyusuri jalan Tuparev yang adalah singkatan dari Tujuh Pahlawan Revolusi.

“Eh, maaf, tadi kudengar mama bilang mau jemput cici di stasiun ya?” tanya Jones.

“Iya” sahutku.

“Cici Christine atau cici Chyntia?”

“Ci Christine, Nes..”

Kami pun tiba di gerbang sekolah, dan langsung menuju ke parkiran motor di belakang sekolah. Usai memarkirkan motornya, Jones pun menyusulku menuju ke lapangan upacara di samping gedung sekolah. Di situ, semua berkumpul, dari siswa kelas satu hingga kelas tiga. Para kakak senior dari OSIS pun sudah berbaris rapi di samping kanan lapangan. Hari itu jelas sekali perbedaan antara kami siswa kelas satu dan kakak-kakak senior kelas dua dan tiga. Karena kami masih menggunakan seragam SMP kami, sampai masa MOS (Masa Orientasi Siswa) atau yang lebih populer dengan sebutan Ospek kami berakhir, yaitu seminggu ke depan. Kami mengikuti upacara dengan tertib. Tiba saatnya sambutan dari kepala sekolah kami, Bapak Nainggolan

“Selamat pagi anak-anak...”

“Selamat pagi pak...” jawab para siswa-siswi peserta upacara.

“Ada beberapa pengumuman yang mau bapak sampaikan, yaitu....”

Setelah beberapa pengumuman yang disampaikan oleh pak Nainggolan, beliau pun mengenalkan para guru-guru yang mengajar, dari kelas satu hingga kelas tiga. Lalu kamipun dibubarkan untuk selanjutnya mengikuti setiap rangkaian acara MOS.

Tepat pukul setengah dua, bel sekolah berbunyi yang menandakan waktunya pulang. Aku pun segera berlari menuju ke parkiran, tapi Jones belum kelihatan.

Tak lama dia pun muncul bersama beberapa anak laki. Rupanya mereka adalah teman-teman sekelasnya. Begitu melihatku, dia langsung berlari mendapatiku.

“Udah lama?” tanyanya.

“Mayan...” jawabku sambil cemberut, “kok lama? Ada apa?” tanyaku.

“Iya, tadi habis rapat dengan pengurus kelas. Maaf ya udah bikin kamu nunggu.”

“Oh, gitu…” jawabku datar, “bagaimana kelasmu?”

“Asik kok. Kita pulang yuk, udah siang nih...”

Kami menyusuri jalan raya Gunung Sari, lalu berbelok ke arah jalan Tuparev. Lalu berbelok memasuki komplek perumahanku, dan tak lama kami pun tiba di rumah ku.

“Oke, makasih ya. Kamu hati-hati ya pulangnya. Jangan ngebut...”

“Iya... Kamu juga hati-hati. Titip salam buat cici ya.”

“Ya nanti ku sampaikan. Dah Jones, sampai jumpa besok yah...”

Bayangan Jones pun segera berlalu, aku segera masuk ke rumah, dan ku lihat mama sedang bersiap-siap.

“Ayo dong sayang, cepet ganti baju, lalu kita berangkat ke stasiun.” ujar mama.

“Iya ma, sebentar, aku ganti baju dulu.”

“Oke, mama tunggu di mobil ya sayang.”

Setelah mengunci pintu dan pagar, aku pun segera masuk ke dalam mobil. Mama melajukan mobil yang kami naiki menelusuri jalan Tuparev menuju ke jalan Kartini.

“Bagaimana sekolahmu tadi sayang, menyenangkankah? Lalu, apa kamu sekelas dengan Jones?”

“Menyenangkan kok mah. Tapi sayang aku ga sekelas dengan Jones.”

“Oh gitu... Mama suka dengan Jones, selain anaknya baik, dan yang paling penting dia sopan. Tapi...”

“Kenapa ma?” tanyaku penasaran.

“Iya, sejak dia kecil, papanya sering tugas di luar kota. Jadi sebagian besar masa kecilnya dilewati hanya berdua dengan mamanya.”

Aku sudah sering mendengar hal ini dari mama, tapi Jones tidak pernah bercerita tentang ini kepadaku. Mobil pun memasuki halaman parkir stasiun lalu mama memarkirkan mobilnya. Kami pun membeli tiket untuk penjemput, karena walaupun kami hanya menjemput, tapi untuk bisa masuk ke dalam peron kereta kami harus membeli tiket. Dulu tiketnya masih berbentuk seperti kartu dan mirip dengan kartu domino dan berwarna biru, sedangkan untuk penjemput atau pengantar berwarna merah muda. Rupanya kereta cici belum tiba, masih ada waktu sekitar sepuluh menit sebelum kedatangannya.

“Keretanya belum datang ya ma.” kataku.

“Ya gapapa. Lebih baik kita yang nunggu.”

Tak lama terdengarlah pengumuman bahwa kereta api jurusan Jakarta dari Solo akan segera memasuki stasiun. Aku sudah ga sabar ingin bertemu cici, kangen rasanya. Sudah hampir setahun dia ga pulang. Keretapun berhenti. Saking banyaknya penumpang yang turun, aku agak kesulitan mencari-cari cici, tapi tidak menemukan cici. Tiba-tiba, dari belakangku ada seseorang yang menutup mataku. Aku membalik badanku, dan yang kulihat ciciku yang kusayang.

Dia Christine, ciciku yang tertua. Dialah orang yang paling sering kujadikan tempat curahan perasaan ku tentang semua hal. Mulai dari masalah sekolah, hingga masalah hati. Walaupun dia jauh, namun dia sering menelfon ke rumah hanya sekedar menanyakan kabar kami. Bagaimana hubungan ku dengan Jones, bertanya bagaimana kondisi papa dan mama. Tapi… sudah hampir tiga bulan dia tidak menelfon.

“Mama apa kabar? Sehat? Maaf ya ma belakangan ini aku sedang sibuk, jadi tidak sempat menghubungi mama dan papa.”

“Mama sehat sayang... Ya, mama ngerti kok. Yang penting kamu sehat, kamu jauh dari mama. Mama sedih kalau ada apa-apa denganmu.”

“Iya ma. Papa gimana ma?”

“Papa sehat, tapi dia sibuk banget sama kerjaannya. Kadang suka sampai larut malam kalau sedang ada kerjaan”

Cici mengalihkan pandangannya ke arahku. Kupeluk erat tubuhnya, dan dia mencium keningku.

“Bagaimana adikku ini… Sekolahmu bagaimana?”

“Baik ci.”

“Ah, iya, Jones dan adiknya itu.. siapa namanya..?”

“Carla, ci...”

“Iya… Carla… gimana kabar mereka, De? Udah lama ga ketemu mereka.”

“Mereka sehat ci, dan Jones juga titip salam malah buat cici.”

“Oh.. salam balik yah.”

“Oh ya ma, Chyntia gimana kuliahnya? Ku dengar dia sedang cuti, memang sedang sibuk apa dia sampai harus cuti segala?”

Chyntia adalah ciciku yang kedua, dia sedang kuliah di Bandung ambil jurusan ekonomi di salah satu unversitas negeri di sana. Saat ini ci Chyntia sedang cuti kuliah, karena menurut cerita cici, dia sedang bekerja di sebuah perusahaan di Bandung sebagai seorang akuntan. Awalnya cici tidak berharap bahwa lamarannya akan diterima, tapi kenyataannya justru dia diterima bekerja di perusahaan tersebut. Oleh karena itu, cici terpaksa mengajukan cuti ke kampusnya. Dan kabarnya, ci Chyntia akan mulai kuliah lagi, tapi mungkin dia ambil yang kelas malam, karena sayang kalau cici harus keluar dari tempat kerjanya yang sekarang. Sebab dari penghasilan di tempatnya bekerja, cici bisa membiayai kuliahnya, membiayai hidupnya, dan kadang tidak jarang juga dia mengirimkan uang ke mama. Mama pernah bilang dengan ci Chyntia agar segera menyelesaikan kuliahnya, makanya ci Chyntia memutuskan untuk segera mengurus administrasi untuk memulai kuliahnya kembali. Akhirnya kami tiba di depan rumah, setelah aku membukakan pagar mama langsung memarkirkan mobil.

“Ma, aku mau mandi dulu ya, gerah. Dari pulang sekolah belum mandi.”

“Yaudah sana cepet mandi..” ucap cici

Akupun bergegas mandi, gerah dan panas banget udaranya. Ya karena sudah musim panas, ditambah lagi Cirebon kota di pinggir laut, udaranya panas. Segar rasanya kalau sudah mandi. Setelah mandi aku bergegas ke ruang tamu, kulihat mama dan cici sedang nonton televisi sambil mengobrol.

“Ma, papa pulang jam berapa?” tanya cici.

“Katanya hari ini tidak banyak kerjaan, jadi bisa pulang lebih cepat.” jawab mama

Kudengar suara klakson mobil di depan rumah. “Nah… itu papa..” kataku.

Sore itu papa pulang diantar oleh om Anton, teman sekantornya. Papaku namanya Herman, Herman Surjadi. Seorang pria kelahiran Bandung, lima puluh tahun silam. Papaku orangnya memiliki watak yang keras. Dia memiliki prinsip yang kuat, walau kadang prinsipnya sering bertentangan dengan pendapat kami. Memang itu semua dia lakukan untuk kebaikan keluarganya, terutama kami anak-anaknya. Tapi kadang kami bingung dengan prinsip papa yang seringkali kami anggap mengekang kami. Sangat jauh berbeda dengan mama. Mama berpendapat, kalian bebas melakukan apapun, selama itu tidak bertentangan dengan norma-norma yang ada, atau yang berpotensi mempermalukan diri kami dan keluarga. Papa datang dengan raut wajah gembira, dia senang bertemu dengan cici yang sudah lama tidak dia lihat. Berjumpa melalui telefon tidaklah sama dengan berjumpa langsung, banyak yang tidak bisa tersampaikan bila melalui telefon. Cici langsung menghampiri papa dan memeluk erat tubuhnya, tubuh yang sudah tidak lagi muda, namun masih dipaksa untuk bekerja demi kelangsungan hidup keluarganya. Sebetulnya, papa tidak perlu lagi bekerja hanya karena demi sekolahku, cici lah yang membantu mama dan papa membiayai sekolahku. Oleh karena itu, aku bertekad untuk segera kuliah setelah selesai sekolah dan segera bekerja seperti ci Chyntia, demi meringankan beban papa dan mama.

“Papa sehat kan?” ucap cici sambil memeluk tubuh papa.

“Papa sehat kok, seperti yang kamu. Kamu gimana? Pekerjaan kamu…? Papa dengar sekarang kamu semakin sibuk? Apa benar itu?”

“Aku sehat kok pa. Yah begitulah pah, karena pemerintah setempat sedang giat untuk membenahi tempat-tempat wisata di daerah Solo, dan membina para pekerja di tempat-tempat wisata tersebut. Jadi kami sibuk mengurus itu lah pa.”

“Bagus… itu baru semangat anak papa…” seraya mencium kening cici.

Malam itu kami makan malam bersama, tapi… kurang lengkap rasanya tanpa kehadiran cici Chyntia. Sudah lama ci Chyntia ga pulang, mungkin karena sekarang dia sedang sibuk di tempatnya bekerja, dan sangat tidak mungkin mengambil cuti. Tapi, kebetulan papa besok akan ke Bandung karena ada urusan kantor. Jadi papa nanti ke Bandung sekalian menengok cici Chyntia. Hari itu aku, cici, mama dan papa mengobrol di ruang keluarga, tapi pukul sepuluh papa pamit untuk beristirahat karena besok pagi akan berangkat ke Bandung. Keesokan harinya, papa berangkat ke Bandung pagi-pagi dengan diantar oleh mama.

“Salam buat Chyntia ya pa, dari kami bertiga” ucap cici.

“Ya, nanti papa sampaikan.” sahut papa.

“Hati-hati ya pa, jangan lupa kabari kalau sudah sampai di Bandung” ucap mama.

“Oke ma, yuk berangkat sekarang. Dah cici, dede…” sambil mencium kening kami berdua.

Setelah mama berangkat mengantar papa ke stasiun, aku dan cici segera sarapan. Selesai sarapan, aku pun segera bergegas mandi dan siap-siap berangkat ke sekolah. Tepat pukul 06.15 Jones pun datang, aku mengenali suara motornya. Cici menemui Jones di teras, sementara aku memeriksa kembali barang bawaan yang harus dibawa, yaitu keperluan MOS.

“De…pacarmu dah dateng nih, buruan…” panggil cici.

“Iya ci… sebentar…”

Semua sudah siap, semua sudah masuk di tasku. Aku pun segera ke teras dan menghampiri Jones.

“Udah siap? Yuk berangkat..” tanyanya.

“Kami berangkat ya ci..” pamit Jones sambil mencium tangan cici.

“Ya, hati-hati ya di jalan.” pesan cici.

“Ya ci” sahutku.

Tepat setengah tujuh kami sudah sampai di halaman sekolah, dan langsung menuju ke parkiran.

“Aku duluan ya, sampai nanti siang” kataku.

“Oke” sahut Jones yang sedang sibuk membereskan tasnya dan helm yang kami pakai. Karena padatnya jadwal MOS kami, waktu jadi terasa berlalu begitu cepat. Bel sekolah tanda waktunya pulang pun berbunyi. Tubuhku lelah, karena aktivitas MOS di hari kedua ini cukup menguras tenaga kami. Dengan langkah yang gontai karena menahan lelah, aku berjalan menuju ke parkiran motor. Kulihat Jones sudah berada di samping motornya. Aku tersenyum kecut sambil melambai ke arahnya. Dia pun membalas dengan senyumannya yang khas, membuat hatiku bersemangat kembali. Dia benar-benar bisa membuat suasana hatiku yang gundah berubah seratus delapan puluh derajat…

“Cie… yang ditungguin sama pacarnya…” kata-kata itu membuyarkan pikiranku. “Ah kamu Des, bisa aja.” ucapku.

“Duluan ya De.”

“Ati-ati ya Des.”

Dia adalah Dessy, temanku dari SMP dan kini kamipun satu sekolah.

“Kenapa kusut begitu wajahnya?” tanya Jones.

“Capek. Banyak banget kegiatan hari ini.”

“Kalau gitu kita pulang yuk…” ajak Jones.

“Tapi aku lapar…” keluhku

“Yaudah, kita mampir untuk makan dulu sebelum pulang.”

Jones segera melajukan motornya menuju ke rumahku, namun ditengah perjalanan Jones singgah di nasi jamblang mang Doel karena kami berdua sudah merasa lapar. Ini adalah salah satu tempat makan nasi jamblang yang cukup terkenal kala itu. Nasi jamblang itu adalah makanan khas kota Cirebon. Ciri khas makanan ini adalah penggunaan daun jati sebagai bungkus nasi. Aku hanya makan dua bungkus nasi, telur ceplok dan sayur tahu. Sebungkus nasi jamblang itu kira-kira satu sendok nasi banyaknya, jadi kalau aku makan dua bungkus itu berarti sama dengan dua sendok nasi. Tapi kalau Jones, jangan ditanya. Jika dia sedang dalam kondisi benar-benar lapar, dia mampu menghabiskan enam bungkus nasi. Tapi hari itu dia tidak sedang lapar, jadi dia hanya makan tiga bungkus nasi beserta lauk dan sayur yang sama denganku.

“Ga kurang, Nes?” tanyaku.

“Gapapa kok, De…” jawabnya dengan tersenyum.

Setelah kenyang, kami pun segera melanjutkan perjalan kami untuk pulang. Sesampainya kami di rumahku, Jones langsung pamit mohon diri untuk segera pulang, karena salah satu tantenya dirawat di rumah sakit. Jadi mamanya meminta dia untuk menemani ke rumah sakit.

“Aku langsung pulang ya, mama minta aku temani membesuk Tante Endah yang sedang di rawat di rumah sakit.” jelas Jones.

“Oke, ati-ati ya. Salam buat mama dan Carla ya. Semoga cepat sembuh untuk tantemu.” jawabku.

“Ya, sampaikan ke mama dan cici, aku pamit pulang.”

Aku mengangguk perlahan. Kuantar Jones pergi lalu segera masuk ke rumah.

“Lho, Jones mana, kok ga masuk?” tanya cici.

“Iya ci, dia langsung pulang. Mau membesuk tantenya di rumah sakit.” jawabku.

“Oh gitu… De, besok bilangin ya ke dia, setelah pulang sekolah cici minta temani jalan-jalan. Kamu juga ikut ya, kita jalan-jalan bertiga.” ujar cici.

“Iya ci, nanti aku telfon dia. Tapi sekarang aku mau mandi dulu… gerah banget…”

Malamnya, aku segera menelfon Jones, menceritakan tentang rencana cici yang meminta dia menemaninya untuk jalan-jalan, dan dia pun setuju.

“Oke. Sampai jumpa besok.”

“Oke, dah Jones…”

“Dah…”

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar