Jumat, 18 Agustus 2023

Cinta Pertama dan Terakhirku - Part 2

 Jalan-jalan bersama cici

Seperti biasa, pagi harinya Jones menjemputku tepat pukul enam lewat lima belas. Hari itu kegiatan MOS kami lebih banyak di dalam kelas, tidak melelahkan seperti kemarin yang lebih banyak dihabiskan di luar kelas. Karena hari itu adalah kegiatan perkenalan dengan guru-guru yang akan mengajar kami. Setelah bel pelajaran selesai berbunyi, aku segera membereskan tasku, dan langsung bergegas menuju ke parkiran.

“Mau kemana De, kok buru-buru amat.” sapa Dessy.

“Iya nih Des, hari ini aku mau cepat pulang, karena cici datang dan minta ditemani jalan-jalan.”

“Oh, cicimu datang ya?”

“Iya, Des. Yaudah, aku duluan ya Des…”

Aku pun segera berlari ke parkiran, kulihat Jones pun sudah siap di atas motornya. Tanpa pikir panjang, aku langsung naik ke motornya, segera kupakai helm, dan kami segera melaju menuju rumahku.

“Aku pulang… Ma… ada tamu nih…” ucapku sambil menghampiri mama yang sedang duduk di ruang tamu sambil membaca koran. Kuajak Jones masuk dan kupersilahkan duduk di ruang tamu, sementara menungguku berganti pakaian.

“Siang tante...” sapa Jones sambil mencium tangan mama.

“Eh… Siang Nes, sini duduk...” ucap mama.

“Ma, aku ganti baju dulu ya.”

“Iya. Sekalian ambilkan minum buat Jones ya sayang...”

“Ya ma…”

Setelah berganti pakaian, aku keluar sambil membawa segelas air dingin yang kuambil dari lemari es.

“Cici belum siap de?” tanya mama.

“Tadi ketika ku tanya dia bilang sudah, tapi kok belum keluar juga..” sahutku

“Ci… jangan kesorean lho, nanti keburu malam.” panggil mama.

“Iya ma, udah siap kok.”

Cici keluar dari kamar, dan mengambil kunci mobil yang digantung di dekat kamar mama.

“Aku pinjam mobilnya ya ma…” pinta cici

“Dah mama…” ku cium pipinya.

“Pergi dulu tante.” pamit Jones

“Ya, hati-hati kalian.” jawab mama.

Kami pun tiba di Grage Mall, sebuah mall yang cukup luas, terdiri dari tiga lantai dan terhitung baru di kota Cirebon. Ketika malam minggu, mall ini akan penuh dengan muda-mudi yang berdatangan. Baik hanya sekedar nongkrong, ngobrol-ngobrol, makan, nonton bioskop dan lain-lain. Hari ini adalah hari Rabu jadi kemungkinan di sana tidak akan terlalu penuh seperti kalau hari Sabtu dan Minggu. Cici memarkirkan mobilnya di parkiran di belakang mall itu yang tampak sepi sore itu.

“Kita kemana dulu nih..?” tanyaku.

“Kamu laper ga de?” tanya cici.

“Laper ci, tadi siang kan belum sempat makan. Kalo kamu, lapar ga Nes?” tanyaku

“Lumayan..” jawabnya

“Yaudah, kamu yang pilih deh de tempatnya. Kan kamu yang biasa ke sini..”

Malam itu kami memutuskan untuk makan di sebuah restoran siap saji yang relatif baru hadir di Cirebon, kami belum tahu apa saja menunya dan bagaimana rasanya. Kami memesan dua buah paket nasi, ayam dan minuman; paket burger, kentang goreng dan minuman.

“Bagi dua yah Nes burgernya, ini terlalu besar porsinya buatku..” pintaku.

“Udah dimakan aja, habiskan yah.”

Aku terpaksa menghabiskan burger yang menurutku tidak sanggup kuhabiskan. Aku melirik Jones dengan tatapan memelas, dan dia melihat ke arahku sambil tersenyum.

“Kenapa…?” tanyanya lembut.

“Kan aku udah bilang ga sanggup…”

Aku mengangkat dan menyodorkan burger yang baru sepertiga kumakan ke arah Jones dengan wajah memelas.

“Yaudah, jangan dipaksa. Sini…” ucapnya seraya mengambil dan segera memakan burger yang baru saja kuberikan.

“Oh iya, Nes, bagimana tantemu, sakit apa dia?”

“Beliau kelelahan, ci. Tekanan darahnya drop, kata dokter kurang istirahat. Memang sih beberapa hari ini pesanan sedang banyak-banyaknya.”

“Memang apa kesibukan tantemu?”

“Buka usaha katering ci, dan terima pesanan untuk segala macam acara.”

“Wah…boleh tuh jadi referensi, siapa tau nanti ada acara dan butuh konsumsi. Nanti cici minta nomer telefonnya ya..”

“Boleh ci.”

Setelah selesai makan kami berbincang sebentar sambil menunggu makanan kami dicerna oleh lambung kami. Setengah jam kemudian kami beranjak meninggalkan tempat kami makan tadi.

“Sekarang kita kemana ci?” tanyaku.

“Kita ke sana aja yuk ci.” ajak Jones sembari menunjuk ke arah sebuah arena permainan.

“Ayo ci…” sambil kutarik tangan cici menuju ke tempat yang ditunjuk Jones. Kami asik bermain di situ hingga tak terasa waktu sudah setengah sembilan.

“Sudah malam nih. Pulang yuk…” ajak cici.

“Iya ci, aku juga mau persiapkan tugas buat besok.” balasku.

Kami bertiga segera melangkahkan kaki menuju ke parkiran. Dan cici pun melajukan mobilnya dengan segera, agar cepat sampai di rumah, dan kami pun tiba di rumah hampir pukul sembilan.

“Kamu udah ijin kan tadi pulang sampai jam segini, Nes?” tanya cici.

“Udah kok ci. Aku bilang mau temani cici jalan-jalan.”

“Ok. Makasih ya udah temani cici hari ini, maaf kalau sampai jam segini. Cici masuk duluan ya. Kamu hati-hati pulangnya.” ujar cici sambil tersenyum.

“Iya ci, gak papa kok. Aku pamit pulang ya ci. Mama mana De, aku mau pamit pulang.”

“Bentar ya. Ma… Jones mau pulang nih.”

Mama menemui kami di teras. Mama menegurku karena telah mengajak Jones hingga malam. Maksud mama baik, dia tidak ingin Jones kemalaman di jalan. Aku meminta maaf ke mama, terlebih Jones karena sudah mengajaknya hingga malam.

“Ga papa kok tante. Aku sudah pamit tadi sama mama. Lagian ga sering-sering kok tante.”

“Salam buat mama ya Nes. Tante masuk dulu ya.”

“Iya tante, selamat beristirahat..” jawab Jones, mama mengangguk sambil tersenyum.

“Aku antar Jones dulu ya ma”

Mama mengangguk, tersenyum sambil menepuk punggungku lalu Mama kembali masuk, sementara aku mengantar Jones hingga ke pintu pagar. Aku terdiam dan tertunduk berdiri di sampingnya, merasa bersalah karena sudah mengajaknya hingga malam tanpa memikirkan mama Anna di rumah. Jones yang melihatku tertunduk, segera menghampiriku dan mengangkat wajahku. Dia menatap wajahku dengan tatapan khasnya yang lembut dan teduh.

“Kenapa kamu diam?”

“Maaf ya sampai malam begini. Sampaikan maafku ke mama ya…”

“Sudah… ga papa kok… Ga usah sedih yah…”

“Tapi ini su….” Belum selesai aku bicara Jones memelukku dan membelai rambutku. Dia memegang wajahku, lalu mencium keningku. Aku tersenyum ke arahnya lalu dia menggenggam kedua tanganku.

“Nah gitu, senyum…” ucapnya lembut, lalu kucium pipi Jones dengan lembut, “ini sebagai permintaan maafku ya.”

“Aku pamit ya.” ucapnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar