Ci Chyntia
Hari-hari kami selanjutnya diisi dengan kesibukan kami di sekolah. Begitu banyak tugas sekolah yang harus kami kerjakan. Karena pelajaran kami di SMA lebih banyak daripada ketika kami duduk dibangku SMP. Ci Chyntia pun datang bersama dengan papa. Aku senang sekali sebab kami bisa berkumpul semua, walau hanya untuk beberapa hari ke depan. Ci Chyntia di Cirebon hanya tiga hari sebab dia harus segera kembali ke Bandung, untuk mengurus kuliahnya lagi. Kuliah cici hanya tinggal satu setengah tahun lagi, tinggal membuat skripsi dan menjalani ujian, setelah itu selesai sudah perkuliahannya.
“Maaf ya ma aku ga bisa lama di sini, cuti kuliahku sudah selesai dan aku mau urus administrasi supaya bisa lanjut kuliah lagi.” jelasnya.
“Mama ngerti kok sayang… Yang penting yang terbaik buat kamu ya. Mama selalu doakan kamu, cici dan juga dede..”
Malam itu kami semua berkumpul di ruang tamu, kami ngobrol, bercanda. Senang rasanya bisa berkumpul bersama dengan cici-ciciku yang sekarang berada jauh, karena pekerjaan dan kuliah.
“Cici, Chyntia dan dede… Minggu depan papa dan mama
harus ke Bandung, karena teman sekolah papa ada yang menikahkan anaknya. Jadi
papa dan mama harus datang. Tadinya papa ga mau datang karena lumayan jauh,
tapi dia sahabat papa, jadi papa harus datang.” ucap mama.
“Papa usahakan Minggu pagi sudah kembali. Sebelum cici
pulang ke Solo.” ucap papa menambahkan.
Mama pamit untuk beristirahat, sementara papa sudah lebih dulu beristirahat, karena besok sudah harus masuk kerja lagi. Malam itu kami bertiga melanjutkan mengobrol di kamar ci Christine.
“Memangnya bisa kamu mengerjakan skripsi sambil bekerja?” tanya ci Christine.
“Ya harus bisalah ci, sayang kalau aku keluar dari kerjaanku yang sekarang.”
“Yaudah, gapapa, asalkan kamu bisa jalaninnya…”
“Doain ya ci..”
“Aku selalu doakan kalian berdua.” ucap ci Christine.
“Oh iya de, Jones gimana, sehat dia? Dah lama lho cici ga ngobrol sama dia.” tanya ci Chyntia.
“Dia sehat kok ci, kemarin kami habis jalan-jalan bertiga dengannya. Apa besok kita mau jalan-jalan lagi berempat?” tanyaku sambil mengedipkan mataku ke arah ci Chyntia.
“Wah, ide bagus tuh. Kita besok jalan-jalan aja lagi, berempat kalau perlu sama cici. Oke ci..?” tanya ci Chyntia ke ci Christine.
“Yah… aku sih oke aja. Tapi gantian, kamu yang bayarin… kan kamu udah kerja…” goda cici.
“Ah, kalau itu sih, tenang aja… gampang diatur itu ci..”
“Yaudah kalau begitu, aku telfon dia ya ci..” ucapku sambil berjalan menuju ke ruang tamu untuk menelfon Jones. Untung dia belum tidur, lalu segera kuberitahu tentang rencana besok, dan tanpa berpikir lama dia pun setuju. Tapi kali ini aku bilang sama dia mungkin akan sampai malam, jadi sebaiknya dia memberitahu mama Anna.
“Iya de, nanti aku kasih tahu mama. Mama pasti ijinin, apalagi perginya sama kamu dan cici.”
“Yaudah kalau begitu, sampai jumpa besok ya..”
“Oke.”
Pagi harinya Jones datang menjemputku seperti biasanya, dan begitu dia mau masuk ke teras sudah dicegat oleh kedua ciciku. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi kulihat Jones salah tingkah mereka buat. Setelah kupastikan tidak ada yang tertinggal, aku segera berpamitan dengan mama dan menuju ke halaman.
“Ci, aku berangkat ya..” pamitku.
“Berangkat dulu ya ci..” pamit Jones seperti biasanya, mencium tangan ke dua ciciku.
“Hati-hati ya Nes… adik cici cuma satu, jaga dia ya..” jawab ci Chyntia.
“Iya ci..”
“Jangan lupa nanti sore..” ucap ci Chyntia, dan Jones mengangguk yakin sambil tersenyum.
Jones segera melajukan motornya menuju ke sekolah, melewati jalan Tuparev yang sudah mulai ramai diisi oleh sepeda motor dan mobil yang hendak berangkat menuju tujuan mereka masing-masing. Akhirnya kami tiba di sekolah, dan setelah memarkirkan motornya, kami langsung menuju ke kelas kami masing-masing.
Bel pulang pun berbunyi, tapi karena tanggung sedang menjelaskan akhirnya pak Didi melanjutkan penjelasan sekitar sepuluh menit lagi. Setelah selesai menjelaskan pak Didi memimpin doa tutup dan mempersilahkan kami untuk pulang, aku segera merapikan tasku dan langsung menuju ke parkiran motor di belakang sekolah, sementara Jones sudah siap berdiri di samping motornya, dan dia tersenyum ke arahku.
“Udah lama? Maaf ya agak lama, tadi pak Didi sedang menjelaskan dan tanggung kalau dihentikan, makanya agak sedikit mulur pulangnya.”
“Gapapa De, aku ngerti kok. Beliau juga pernah seperti itu ketika di kelasku.”
“Nih helmnya dipakai..” ucapnya seraya menyodorkan helm yang sering kupakai, dan aku langsung naik ke motornya. Tak sampai setengah jam kami sudah tiba di rumahku, dan kusuruh dia masuk dan duduk di ruang tamu sambil menunggu aku dan kedua ciciku untuk bersiap-siap.
“Ci.. Nih, katanya mau ketemu sama Jones…” ucapku sambil kuketuk pintu kamar ci Chyntia.
“Lho, udah pulang de?”
“Iya ci, baru aja nyampe. Itu dia sudah di ruang tamu, katanya mau ketemu..”
“Ya sebentar, cici ganti baju dulu. Memangnya mau berangkat jam berapa?”
“Ya jangan kesorean ci, nanti kaya minggu lalu, kami sampai jam sembilan baru pulang. Dan mama menegur kami karena terlalu malam.”
“Oke, yaudah kamu juga ganti baju, kita berangkat jam tiga aja yah..”
“Yaudah, kalau gitu aku temani dia dulu, kasihan ga ada yang temani di ruang tamu”
Aku ke dapur dan membuat segelas sirup jeruk dan memberikannya ke Jones, dan langsung dia habiskan segelas sirup jeruk itu.
“Haus atau doyan Nes..?”
“Haus De, panas banget di luar..” jawabnya sambil tersenyum.
“Mama dan Carla gimana Nes, sehat?”
“Puji Tuhan De, mereka sehat semua, dan Carla sebentar lagi mau masuk TK. Mama nanyain kamu katanya kapan-kapan aku diminta mengajakmu ke rumah.”
“Hah?? Beneran?” tanyaku memastikan, dan dia mengangguk. Memang sejak kami berpacaran, aku belum pernah lagi menginjakkan kaki ke rumahnya. Mama Anna memang sudah tahu kalau kami berpacaran, dan mungkin dia juga kangen sama seperti aku kangen padanya. Kupegang tangannya, “Nanti kita cari waktu ya untuk ketemu mama Anna, aku juga kangen sama mama, dan aku juga pengen banget ketemu sama Carla.”
“Yaudah, nanti aku ajak kamu main ke rumah ya..”
“Oke.” jawabku, dan tak lama kedua ciciku pun bergabung dengan kami.
“Nah, kutinggal dulu ya, aku mau mandi dan ganti baju..”
Setelah semua siap, kami pun segera berpamitan dengan mama yang ada di ruang keluarga.
“Ma, kami berangkat ya..” pamitku ke mama yang sedang menonton televisi.
“Pamit ya tante..” pamit Jones ke mama.
“Ya, hati-hati dan ingat, jangan malam-malam pulangnya.”
“Iya mama..” jawab ci Christine sambil mencium pipi mama.
Kami berangkat tepat pukul tiga sore menuju ke Grage Mall, supaya bisa agak lama di sana kalaupun mau pulang pukul delapan. Malam itu kami sangat menikmati kebersamaan kami berempat, kami makan, bermain, ngobrol dan bercanda hingga waktu menunjukkan pukul delapan malam. Kami segera melangkah menuju ke parkiran dan langsung pulang ke rumah. Setelah cici memarkirkan mobil, Jones bersiap-siap untuk pulang.
“Mama dan papa mana de, aku mau pamit pulang.”
“Papa udah tidur, ada hanya mama. Sebentar ya.” jawabku. Aku menuju ke ruang keluarga, dan memberitahu mama bahwa Jones mau pamit pulang. Kugandeng mama menemui Jones di ruang tamu, sementara kedua ciciku masih duduk di teras.
“Tante, saya pamit pulang dulu..” pamit Jones.
“Ya, Nes. Makasih ya udah temani mereka jalan-jalan hari ini, maaf udah merepotkan kamu. Hati-hati pulangnya, ini sudah malam, ga usah ngebut ya Nes.”
“Engga kok tante, saya senang kalau bisa membantu. Iya tante, terima kasih.”
“Yaudah, kalau begitu tante masuk dulu ya, mau istirahat. Salam buat mama.” ucap mama seraya menepuk-nepuk bahu Jones, lalu langsung kembali ke dalam dan masuk ke kamar.
“Ci, aku pamit ya, makasih udah di traktir makan..” pamit Jones sambil tersenyum.
“Aku yang terima kasih, sudah ditemani jalan-jalan. Jangan bosan ya kalau cici minta tolong temani lagi.” jawab ci Chyntia.
“Pasti ci, kalau butuh apa-apa kabari aja ci lewat dede. Kalau pas ga sibuk aku langsung datang kok.”
“Oke kalau begitu. Ayu ci masuk, aku udah ngantuk nih..” ucap ci Chyntia seraya menggandeng tangan ci Christine untuk masuk.
“Iya, aku juga udah ngantuk nih. Kamu hati-hati ya Nes.. Makasih ya..” pesan ci Christine.
“Iya ci, selamat beristirahat cici..”
“De, jangan lupa kunci pagarnya nanti, kami mau tidur duluan ya..” ucap ci Chyntia.
“Iya ci..” jawabku. Kugandeng tangan Jones menuju ke motornya, sebelum dia naik ke motornya, kupeluk tubuhnya, dan dia membelai rambutku.
“Aku pulang dulu ya, kamu cepat istirahat, besok ku jemput.” ucapnya lembut.
“Iya, makasih ya.. kamu juga cepat istirahat, supaya besok tidak kesiangan menjemputku.” bisikku di telinganya. Dia segera menyalakan motornya dan langsung menghilang di kejauhan.
Hari berlalu begitu cepat, tak terasa hari minggu pun tiba. Hari dimana cici Chyntia harus kembali ke Bandung untuk mengurus kuliahnya. Aku sedih karena harus berpisah lagi dengan cici. Yang mengantar hanya aku, mama dan cici. Papa terpaksa harus ke kantor karena ada urusan mendadak yang tidak bisa ditunda. Kami mengantar ci Chyntia ke terminal. Satu-satunya terminal bis di kota Cirebon ya hanya terminal bis Harjamukti. Letaknya dekat dengan rumah Jones. Kami tiba di terminal bis Harjamukti, dua puluh menit sebelum keberangkatan bis yang cici naiki. Bis tujuan Bandung ada di jalur tiga.
“Aku pamit ya ma…” ucap cici sambil mencium pipi mama dan memeluknya.
“Jaga dirimu disana. Kalau ada apa-apa kabari mama.”
“Iya ma. Mama sama papa juga. Doain ya ma.”
“Mama selalu doakan anak-anak mama.” ucap mama sambil mencium kening cici Chyntia.
“Pamit ya ci.. Aku akan segera selesaikan kuliahku.”
“Ya. Cepat selesaikan kuliahmu, supaya kamu bisa lebih fokus bekerja.” bisik cici Christine sambil memeluk cici Chyntia. Melihat mereka berpelukan, aku jadi semakin sedih, dan tak terasa air mata mengalir di pipiku.
“Cici pamit ya de… Kamu jaga papa dan mama, jangan jadi beban pikiran mereka. Belajar yang bener ya.”
“Iya ci..” aku pun menangis sambil kupeluk tubuh cici Chyntia dengan erat, seperti tak akan pernah kulepaskan. Ci Chyntia melepaskan pelukanku dan memegang pundakku, menghapus air mata yang menetes di pipiku. “Udah jangan nangis sayang… nanti kalau liburan sekolah, main ke Bandung ya. Sekalian ajak Jones.”
Aku tersenyum mendengar cici menyuruhku ke Bandung bersama dengan Jones.
“Nah… gitu, senyum dong… Kalau gitu baru keliatan cantiknya adikku ini” sambil mencubit pipiku lalu memelukku.
“Salam ya buat Jones.”
“Iya ci, nanti aku sampaikan.”
“Aku berangkat ya.” ucap cici Chyntia sambil masuk ke dalam bis dan melambaikan tangan pada kami. Tak terasa air mataku pun mengalir lagi. Bis yang cici naiki berjalan perlahan meninggalkan terminal Harjamukti, meninggalkan aku yang masih sedih ditinggalkan oleh cici.
“Udah jangan nangis ya, cici ikut sedih nih kalau lihat kamu nangis. Bandung dekat kok. Kapan-kapan kita sama-sama ke Bandung, nengokin dia yah… Ayo kita pulang.” ucap cici. Dia menyeka air mataku dan langsung menggandeng tanganku dan mama menuju ke parkiran mobil.
Kami pun sudah sampai di rumah kembali. Perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh lima menit perjalanan kembali ke rumah. Aku hempaskan tubuhku ke atas kasur, masih terasa sedih. Tapi aku berjanji pada diriku, aku akan ke Bandung pas liburan nanti. Kalau perlu aku ke Bandung lalu ke Solo untuk menengok kedua ciciku yang sangat kusayangi.
Hari berlalu begitu cepat, tak terasa sudah hari Jumat saja. Memang kalau kita mengisi hari-hari kita dengan kesibukan, waktu cepat sekali berlalu.
Setelah makan malam, aku dan cici menonton televisi di ruang tengah, kulihat papa dan mama sedang mempersiapkan pakaian untuk keberangkatan mereka besok.
“Ada yang bisa kubantu, ma, pa?” tanyaku.
“Sudah beres kok de, besok kami berangkat subuh, supaya tidak kesiangan sampai di Bandung.”sahut mama.
“Yaudah, mama sama papa segera istirahat aja. Nanti aku yang kunci pintunya.” ucap cici.
“Ci, aku tidur dulu ya.” kataku
“Ya... Selamat tidur. Mimpi indah ya…”
Aku langsung tertidur malam itu. Aku terbangun oleh suara di dapur. Kulirik jam wekerku, masih menunjukkan pukul setengah empat pagi. Siapa pagi-pagi buta sudah ada di dapur. Aku pun langsung melangkahkan kaki keluar kamar. Kulihat mama sedang sibuk mempersiapkan makanan dibantu oleh cici.
“Ya ampun ma, pagi-pagi banget masaknya?” tanyaku.
“Iya, mama lagi siapkan sarapan buat kita. Karena mama dan papa berangkat jam setengah lima, jadi masih sempat sarapan biar ga jajan di jalan nanti.”
“Papa mana ma?” tanyaku.
“Itu ada di depan, sedang memanaskan mobil.”
“Oh..”
“De.... tolong panggil papa ya sayang, kita sarapan sama-sama.” pinta mama.
Aku berjalan menuju ke teras, mengajak papa masuk untuk sarapan. Setelah mematikan mobil, kugandeng tangan papa lalu masuk ke rumah. Mama dan cici sudah menunggu kami di meja makan. Hari itu kami sarapan pagi sekali, jam empat pagi.
“Kami berangkat ya. Kalian berdua jaga rumah ya. Kalau mau pergi jangan lupa kunci pintu dan pagar.”
“Ya ma, pa. Hati-hati di jalan.” pesan cici.
Kami berdua melambaikan tangan mengiringi keberangkatan papa dan mama.
Kamipun masuk kembali ke dalam rumah. “Apa rencana kita hari ini ci?” tanyaku.
“Nanti deh kita pikirkan. Cici mau tidur sebentar dulu ya. Masih agak ngantuk. Bangunkan cici jam tujuh ya...”
“Iya ci...”
Kasihan cici, dia pasti masih mengantuk. Ga tau dia bangun jam berapa tadi pagi, membantu mama menyiapkan sarapan. Hmm... ngapain ya enaknya hari ini. Oh iya, ini kan malam minggu, Jones pasti akan mengajakku jalan-jalan. Senang sih, tapi... kasihan cici sendirian... Gimana kalau kita ga usah jalan-jalan, tapi main-main aja di rumah, ngobrol-ngobrol aja bertiga, pasti asik... Atau nanti kalau cici sudah bangun, kutanya aja, mungkin dia punya pendapat yang lain, yang lebih seru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar